Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengaruh faktor air terhadap pertumbuhan jagung

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Air merupakan salah satu komponen fisik yang sangat penting untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Maynard & Orcott 1987). Hal ini karena air merupakan penyusun sel-sel dan jaringan tumbuhan. Jumlah air yang dikandung dalam tumbuhan tentu berbeda-beda, tergantung pada jenis tumbuhan dan habitatnya. Biasanya, tumbuhan-tumbuhan herba lebih mengandung air lebih banyak daripada tumbuhan perdu.
Laju evapotranspirasi dan absorbsi air pada suatu tumbuhan harus seimbang. Apabila proses hilangnya air (evapotranspirasi) tidak diimbangi dengan penyerapan air dari dalam tanah, maka tumbuhan akan mengalami kekurangan air. Kekurangan air dalam tubuh tumbuhan akan mengakibatkan pembelahan dan pembesaran sel mengalami penurunan, sehingga pertambahan tinggi tumbuhan, pembesaran diameter batang, perbanyakan daun dan pertumbuhan akar menjadi terhambat (Kramer, 1969). Akibat lainnya yaitu penurunan turgor yang menyebabkan turunnya proses fisiologi tumbuhan tersebut (Fitter dan Hay, 1981). Selain itu, kekurangan air juga dapat mengakibatkan terjadinya necrosis pada tumbuhan yaitu mengeringnya pucuk daun dan tunas sehingga warna daun berubah menjadi berwarna kuning kecoklatan, dan diikuti daun-daun yang lain.
Adapun fungsi air bagi tanaman menurut Noggle dan Frizt (1983) yaitu sebagai senyawa utama penyusun protoplasma, sebagai pelarut mineral dalam tanah sehingga dapat dan diangkut dari satu sel ke sel lain, sebagai media terjadinya reaksi-reaksi metabolik, sebagai reaktan pada sejumlah reaksi metabolisme, penghasil hidrogen pada proses fotosintesis, menjaga turgiditas sel dan berperan sebagai tenaga mekanik dalam pembesaran sel, sebagai pengatur mekanisme gerakan tanaman, perpanjangan sel, sebagai bahan metabolisme dan produk akhir respirasi, serta digunakan dalam proses respirasi. Sedangkan menurut Rashid (1997), air diperlukan oleh tubuhan untuk memenuhi kebutuhan  biologisnya,  antara  lain untuk  transpirasi  dalam  proses  asimilasiuntuk  pembentukan  karbohidrat  dan juga untuk pengangkutan  hasil fotosintesis  ke  seluruh jaringan  tanaman.
Jagung (Zea mays) merupakan salah satu tanaman pangan, baik sebagai sumber karbohidrat utama maupun sumber pangan alternatif. Jagung tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat, tapi, digunakan juga untuk pakan ternak terutama bagian tongkolnya, bijinya dibuat menjadi tepung jagung dan juga minyak. Jagung  merupakan  tanaman  dengan  tingkat penggunaan air sedang. Walaupun demikian, air merupakan faktor pembatas yang sangat penting, karena dapat mempengaruhi  hasil  panen  jagung.  Kurangnya  debit air pada lahan yang ditanami jagung,akan  menyebabkan  aerasi  udara  dalam  tanah  terganggu  dan pasokan  oksigen  dalam  tanah  tidak lancar, sehingga perkembangan tanaman menjadi tertunda  atau mengalami  kekerdilan. Berdasarkan penjelasan diatas, dilaksanakanlah praktikum Pengaruh Faktor Air ini, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor air terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung (Zea mays).




BAB II
METODE PENGAMATAN

A.    BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum ini dilaksanakan pada Jum’at, 19 Oktober 2013, pukul 08.00-10.00 WIB di Rumah Kasa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura Pontianak.

Alat dan Bahan Praktikum
Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah baskom berdiameter lebih dari 30cm, gunting, kertas label, polibag berdiameter 30 cm, sekop bunga, dan selotipe. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain air, biji Zea mays, dan tanah bakar sebanyak 2 karung. BijiZea mays direndam dalam air selama 24 jam sebelum praktikum dilaksanakan. Perendaman biji ini bertujuan untuk mempercepat proses imbibisi atau penyerapan air.

Prosedur Kerja
Pengaruh Faktor Air Terhadap Pertumbuhan Jagung
Tanah bakar yang akan digunakan sebaiknya di homogenkan terlebih dahulu. Kemudian, dimasukan dimasukkan ke dalam empat buah polibag dengan volume yang sama banyak.Masing-masing polibag ditanami 5 buah biji Zea mays dan diberi label. Masing-masing polibag diberi perlakuan yang berbeda. Polibag yang pertama disiram 1x sehari, polibag kedua disiram 2 hari sekali, polibag ketiga disiram 3 hari sekali, dan polibag keempat diletakkan dalam baskom yang berisi air, sehingga bagian bawah polibag selalu terendam air. Pengamatan dan analisis data dilakukan setelah tanaman berumur satu bulan.

Pengaruh Air Untuk Melihat Titik Kelayuan
Tanah bakar yang telah dihomogenkan dimasukkan kedalam tiga buah polibag dengan volume yang sama banyak. Masing-masing polibag ditanami 5 buah biji Zea mays dan diberi label. Masing-masing polibag diberi perlakuan yang berbeda. Polibag yang pertama disiram 1 kali sehari, polibag kedua disiram ketika tanaman telah menunjukkan gejala kelayuan, sedangkan polibag ketiga diletakkan dalam baskom yang berisi air, sehingga bagian bawah polibag selalu terendam. Pengamatan dan analisis data dilakukan setelah tanaman berumur satu bulan. Pengamatan yang dilakukan yaitu pengukuran panjang dan lebar daun, panjang dan warna akar, serta berat basah dan kering tanaman jagung.





BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil
Perlakuan : Pengaruh Faktor Air Terhadap Pertumbuhan Jagung
Pengamatan pada minggu pertama, kelima biji jagung yang ditanam pada pot I, II, dan III telah tumbuh semuanya, sedangkan pada pot IV hanya empat biji yang sudah tumbuh, dan satu biji jagung belum tumbuh. Pengamatan pada minggu kedua, masih sama seperti minggu pertama, yaitu hanya pot ke IV saja yang masih terdapat biji jagung yang belum tumbuh. Pengamatan pada minggu ketiga, pot II dan III, terdapat jagung yang mati, sedangkan pot ke IV satu biji jagung masih belum tumbuh. Sedangkan pada minggu keempat hanya pada pot I saja yang masih tumbuh semuanya, sedangkan pot II, III, dan IV masing-masing terdapat dua jagung yang mati, dan satu biji jagung pada pot IV belum juga tumbuh. Adapun hasil pengamatan setiap minggunya tersaji pada tabel-tabel dan grafik-grafik di bawah ini.
Tabel 1.       Pengaruh Air Terhadap Tinggi Tanaman Jagung (Cm)
Minggu
Tanaman Jagung
Pot 1
Pot 2
Pot 3
Pot 4
1
22,5
23,2
19,6
18,325
2
24,5
25,5
22
20,475
3
24,5
27,5
23,25
21,625
4
26,14
30,67
25,7
25,3

Tabel 1 diatas menunjukkan rata-rata tinggi jagung pada empat pot yang diberi perlakuan berbeda. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut menunjukkan pertumbuhan tinggi jagung yang tertinggi merupakan jagung pada pot II, yaitu dengan penyiraman 2 hari sekali. Sedangkan  pertumbuhan tinggi jagung yang terendah ditunjukkan pada pot IV, yaitu pot yang tergenang air. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan kecepatan tumbuh biji jagung dan masa dormansi biji yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil pengamatan setiap minggunya diketahui bahwa setiap minggunya tinggi jagung selalu mengalami peningkatan. Peningkatan tinggi tanaman jagung setiap minggunya dapat dilihat secara lebih rinci pada grafik 1.

Tabel 2.    Pengaruh Air Terhadap Panjang Daun Jagung (Cm)
Minggu
Tanaman Jagung
Pot 1
Pot 2
Pot 3
Pot 4
1
12,7
12,3
8,7
9,25
2
15,02
13,42
10,25
11
3
15,02
14,25
11,05
12,2
4
15,74
15,567
12,73
15,4

Tabel 2 diatas menunjukkan rata-rata panjang daun jagung pada empat pot yang diberi perlakuan berbeda. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut menunjukkan pertumbuhan panjang daun jagung yang tertinggi merupakan jagung pada pot I, yaitu pot dengan penyiraman 1 hari sekali. Sedangkan pertumbuhan panjang daun jagung yang terendah ditunjukkan pada pot III, yaitu pot dengan penyiraman tiga kali sehari. Hal ini berarti jagung pertumbuhan daunnya lebih cepat. Selain pertumbuhan panjang daun, daun juga melakukan perbanyakan heaian daun. Sebab, daun merupakan organ penting tumbuhan karena merupakan tempat terjadinya fotosintesis. Pemanjangan dan perbanyakan daun ini diharapkan dapat membantu mempercepat reaksi fotosintesis. Reaksi fotosintesis sangat memerlukan suplai air dan mineral yang cukup. Hal ini sebagaimana pernyataan Soemartono  (1990) yang menyatakan bahwa  air  sangat dibutuhkan  oleh  tanaman  untuk semua proses  fisiologis tanaman  termasuk pembelahan  sel  dan  proses  pembentukan daun.
Tabel 3.      Pengaruh Air Terhadap Lebar Daun Jagung (Cm)
Minggu
Tanaman Jagung
Pot 1
Pot 2
Pot 3
Pot 4
1
1,08
1,26
1,2
1,3
2
1,18
1,32
1,325
1,45
3
1,18
1,25
1,5
1,625
4
1,26
1,5
1,15
1,8
Tabel 3 diatas menunjukkan rata-rata lebar daun jagung pada empat pot yang diberi perlakuan berbeda. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut menunjukkan pertumbuhan lebar daun jagung yang tertinggi merupakan jagung pada pot IV, yaitu pot yang tergenang. Sedangkan pertumbuhan lebar daun jagung yang terendah ditunjukkan pada pot I, yaitu pot dengan penyiraman sekali sehari. Perbandingan antara panjang dn lebar daun jagung sangat jelas terlihat pada pot I. Sebagaimana yang telas dijelaskan sebelumnya, pertumbuhan panjang daun yang tertinggi merupakan jagung pada pot I. Namun, pada pertumbuhan lebar daun jagung pada pot I justru yang terendah. Hal ini berarti pertumbuhan panjang berbanding terbalik dengan pertumbuhan pertumbuhan lebar daun.
Tabel 4  Pengaruh Air Terhadap Tinggi Tanaman Jagung (Cm)
Minggu
Tinggi Tanaman Jagung
Pot 1
Pot 2
Pot 3
1
23,4
15
15,94
2
25,4
17,5
19,3
3
27,25
20
22,567
4
30,6
22,5
26
Tabel 4 diatas menunjukkan rata-rata tinggi tanaman jagung pada empat pot yang diberi perlakuan berbeda. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut menunjukkan pertumbuhan tinggi jagung yang tertinggi merupakan jagung pada pot I, yaitu pot dengan penyiraman sekali sehari. Sedangkan pertumbuhan tinggi jagung yang terendah ditunjukkan pada pot II, yaitu pot yang penyiramannya dilakukan apabila tumbuhan telah mengalami kelayuan. Hal ini berarti pertumbuhan terbaik bagi jagung yakni pada pot I yaitu jagung dengan penyiraman sekali sehari. Pertumbuhan terbaik kedua yaitu jagung pada pot yang terendam air. Sedangkan pot II pertumbuhan jagung nya terhambat karena kekurangan air, hal ini disebabkan penyiramannya hanya dilakukan saat jagung sudah menunjukkan gejala kelayuan. Sehingga dapat dikatakan kekurangan air bagi tumbuhan akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup pertumbuhan jagung. Selain itu, pada pot III yaitu pot yang tergenang terdapat jagung mati disebabkan busuknya batang jagung. Sehingga, dapat dikatakan bahwa genangan air juga berdampak buruk bagi kelangsungan hidup jagung. Berdasarkan hasil pengamatan setiap minggunya diketahui bahwa setiap minggunya tinggi jagung selalu mengalami peningkatan. Peningkatan tinggi tanaman jagung setiap minggunya dapat dilihat secara lebih rinci pada grafik 1.

Tabel 5    Pengaruh Air Terhadap Panjang Daun Jagung (Cm)
Minggu
Panjang Daun Jagung
Pot 1
Pot 2
Pot 3
1
12,5
7,25
7,5
2
15,34
7,95
15,34
3
17
9,067
13,167
4
18,367
10,85
16,5

Tabel 5 diatas menunjukkan rata-rata panjang daun jagung pada empat pot yang diberi perlakuan berbeda. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut menunjukkan pertumbuhan panjang daun jagung yang tertinggi merupakan jagung pada pot I, yaitu pot dengan penyiraman sekali sehari. Sedangkan pertumbuhan panjang daun jagung yang terendah ditunjukkan pada pot II, yaitu pot yang penyiraman dilakukan apabila jagung telah menunjukkan gejala kelayuan. Hal ini berarti pertumbuhan terbaik bagi jagung yakni pada pot I yaitu jagung dengan penyiraman sekali sehari. Sedangkan pot II pertumbuhan jagung nya terhambat karena kekurangan air.
Tabel 6    Pengaruh Air Terhadap Lebar Daun Jagung (Cm)
Minggu
Lebar Daun Jagung
Pot 1
Pot 2
Pot 3
1
1,18
1,15
1,18
2
1,28
1,3
1,3
3
1,4
1,3
1,6
4
1,467
1,45
1,15

Tabel 6 diatas menunjukkan rata-rata lebar daun jagung pada empat pot yang diberi perlakuan berbeda. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut menunjukkan pertumbuhan lebar daun jagung yang tertinggi merupakan jagung pada pot I, yaitu pot yang disiram sekali sehari. Sedangkan pertumbuhan lebar daun jagung yang terendah ditunjukkan pada pot II, yaitu pot yang penyiramannya dilakukan setelah jagung menunjukkan gejala kelayuan.

B.     Pembahasan
Seluruh makhluk hidup tentu memerlukan air, tidak terkecuali tumbuhan. Air adalah salah satu komponen fisik yang  sangat  penting dan  dibutuhkan dalam jumlah besar  karena digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sebanyak 85-90 % dari  bobot  segar  sel-sel dan  jaringan tanaman  tinggi  adalah  air  (Maynard  dan Orcott 1987).
Praktikum ini menggunakan tanaman jagung atau Zae mays sebagai objek untuk mengamati pengaruh air terhadap pertumbuhan tumbuhan dan untuk mengetahui tingkat kelayuan tumbuhan. Penggunaan tanaman jagung sebagai objek praktikum ini dikarenakan bibit jagung relatif mudah ditemukan dijual dipasaran. Selain juga karena jagung merupakan  tanaman yang mudah tumbuh dengan tingkat penggunaan air sedang. Penanaman biji jagung ini dilakukan pada beberapa pot yang berbeda-beda, dan setiap potnya mendapat perlakuan yang berbeda pula untuk intensitas penyiramannya, yaitu sekali sehari, dua kali sehari, tiga kali sehari, setelah tumbuhan menunjukkan gejala kelayuan, dan ada pula yang tergenang.
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, bahwa air digunakan oleh tumbuhan untuk proses pertumbuhan dan perkembangan. Kebutuhan air bagi tumbuhan ini tidaklah sama, karena kebutuhan terhadap air pada setiap tumbuhan tentu berbeda-beda. Komposisi air yang pas untuk suatu tumbuhan sangat bermanfaat untuk mempercepat pertumbuhan tumbuhan itu sendiri. Hal ini didukung oleh pernyataan Doorenbos  dan  Kassam  (1979) yang menyatakan bahwa  untuk  mempercepat pertumbuhan  dan  meningkatkan  hasil tanaman perlu penyiraman sesuai kebutuhan air.  
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, untuk perlakuan A pertumbuhan jagung yang terbaik yaitu pada pot II yang penyiramannya dua hari sekali. Sedangkan untuk perlakuan B pertumbuhan jagung yang terbaik yaitu pada pot I yaitu pot dengan penyiraman sekali sehari.
Pertumbuhan kelima biji jagung yang ditanam memiliki perbedaan kecepatan tumbuh karena dipengaruhi masa dormansi biji yang berbeda-beda. Kondisi lingkungan fisik, intensitas penyiraman, dan genangan air juga berpengaruh bagi pertumbuhan jagung. Penyiraman yang teratur sekali dalam sehari atau dua hari merupakan intensitas yang terbaik untuk pertumbuhan jagung. Sedangkan penyiraman sekali dalam tiga hari dan penyiraman setelah jagung menunjukkan gejala kelayuan dapat berdampak negatif yaitu terhambatnya pertumbuhan jagung yang disebabkan kekurangan air dan cekaman kekeringan. Namun, genangan air juga berdampak negatif juga untuk pertumbuhan jagung, karena dapat menyebabkan kebusukan pada akar dan batang.
Penyiraman sekali dalam satu atau dua hari  akan mempengaruhi  kelembaban  tanah. Kelembaban tanah akan terjaga dengan penyiraman secara teratur. Menurut Harjadi (2002) tanaman  sangat  membutuhkan  air dalam  jumlah yang teratur  untuk mendukung pertumbuhannya,  sehingga pemberian  air  yang  merata  sepanjang pertumbuhan  tanaman akan  selalu ideal untuk  tanaman  tersebut.  Penyiraman  yang sedikit-sedikit namun apabila dilakukan dengan sering dan teratur memungkinkan air selalu ada sehingga dapat selalu tersedia  bagi  jagung,  karena  hal  yang  paling  penting  dari jumlah  air  yang  ada  dalam tanah  adalah ketersediaannya.
Penyiraman yang tidak teratur dan hanya disaat jagung menunjukkan gejala kelayuan menyebabkan kadar air tanah berkurang  atau kekeringan. Cekaman kekeringan dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu kekurangan suplai air di daerah perakaran dan laju evapotraspirasi lebih  besar  daripada  penyerapan air  walaupun dalam keadaan kadar  air tanah yang cukup. Menurut Haryati (2003) kekurangan air secara internal pada tanaman berakibat langsung pada penurunan pembelahan dan pembesaran sel. Tanaman memiliki reaksi  yang sangat kompleks menghadapi cekaman kekeringan. Namun reaksi atau respon yang diberikan oleh setiap tumbuhan tentu berbeda-beda tergantung pada bentuk morfologi, anatomi  dan  metabolisme tumbuhan. Cekaman kekeringan  akan  mengakibatkan rendahnya laju  penyerapan  air  oleh  akar tanaman.   Ketidakseimbangan  antara penyerapan air oleh akar dan kehilangan air akibat  transpirasi  membuat  tumbuhan menjadi  layu.
Berdasarkan hasil yang diperoleh, diketahui bahwa tumbuhan yang penyiramannya sekali dalam waktu tiga hari dan saat menunjukkan gejala kelayuan petumbuhan jagung sangat rendah bila dibandingkan dengan pertumbuhan jagung dengan perlakuan yang lain. Hal ini karena pertumbuhan jagung terhambat disebabkan kurangnya suplai air. Hal ini didukung dengan pernyataan Mubiyanto (1997) yang menyatakan bahwa  jika tanaman  kekurangan air,  maka  proses pertumbuhan  terhambat  dan  hasil akan menurun. Pemberian air yang di bawah kondisi optimum bagi pertumbuhan tanaman,  akan berakibat tanaman akan terhambat (tanaman menjadi kerdil) ataupun terlambat untuk memasuki  fase  vegetatif  selanjutnya. Selain itu Sutoro dan Susanto (1989) juga menyatakan  bahwa ketersediaan air  sangat mempengaruhi pertumbuhan tinggi  tanaman dan perkembangan  jaringan-jaringan  meristem pada titik tumbuh tanaman. Apabila kekeringan terus menerus terjadi, tidak menutup kemungkinan tanaman akan mengalami kematian.
Selain kekeringan, dampak negatif juga dapat dialami tumbuhan apabila tanah tempat hidupnya mendandung air terlalu banyak atau berlebihan. Pada saat praktikum, kondisi seperti ini dianalogikan dengan tumbuhan pada pot yang terendam air. Genangan air akan menimbulkan dampak yang buruk terhadap pertumbuhan suatu tumbuhan. Hal ini karena genangan air akan mempengaruhi sifat fisik, sifat kimia, maupun sifat biologi tanah. Tanah yang lembek merupakan tanda bahwa struktur tanah telah rusak akibat genangan air. Dampak buruk genangan air bagi tumbuhan adalah busuknya akar. Busuknya akan tumbuhan dapat mengganggu pertumbuhan batang dan juga daun. Busuknya akar tumbuhan inilah yang dapat menyebabkan kematian pada akar, sehingga tumbuhan tersebut pun akan mengalami kematian.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat dikatakan bahwa hasil dari praktikum yang dilakukan sudah sesuai dengan teori-teori yang mendukung. Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini adalah pertumbuhan suatu tumbuhan sangat dipengaruhi air. Apabila kekurangan air tumbuhan akan mengalami kelayuan, dan jika kekeringan terjadi terus-menerus tumbuhan dapat mengalami kematian. Namun apabila air terlalu berlebihan, jagung juga dapat mengalami kematian yang disebabkan kebusukan pada akar, batang dan juga daunnya. Air sangat menunjang kelangsungan hidup tumbuhan. Penyiraman tanaman sekali dalam satu atau dua hari adalah perlakuan terbaik, karena kelembaban tanah akan terjaga sehingga akan mendukung kelangsungan hidup tumbuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Doorenbos,  J.,  daan  A. H., Kassam, 1979, Yield Response to Water, FAO Irrigation and Drainage Paper 33, FAO, Rome.
Fitter,  A. H.,  dan  R. K. M.  Hay,  1981, Fisiologi  Lingkungan  Tanaman, Gajahmada University  Press, Yogyakarta.
Harjadi,  S. S. M. M.,  2002,  Pengantar Agronomi, Gramedia  Pustaka Utama, Jakarta.
Haryati, 2003, Pengaruh Cekaman Air Terhadap  Pertumbuhan dan Hasil Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Kramer,  P. J.,  1969,  Plant  and  Soil  Water Relationships,  New  York:  Mc. Graw Hill  Book Company, Inc, p: 347.
Maynard, G. H., dan D. M. Orcott, 1987, The Physiology of Plants Under Stress, John  Wiley and  Sons,  Inc.  New York. 206 p.
Mubiyanto, B.M., 1997, Tanggapan Tanaman Kopi Terhadap Cekaman Air, Warta  Puslit Kopi dan Kakao, Vol. 13, No.2, p: 83-95.
Noggle,  G.  R., dan  G.  J.,  Fritz, 1983, Introductory  Plant  Physiology, Prentice-Hall,  Inc, Englewood Cliffs, New Jersey, 627p.
Rashid, A., Pizer, E. S., Moga, M., et al, 1997, Elevated Expression of Fatty Acid Synthase and Fatty Acid Synthetic Activity in Colorectal Neoplasia, Am J Pathol, 150, p: 201-8.
Sutoro, I. S., dan Susanto, T., 1989, Pengaruh Cekaman Air dan Reaksi Pemulihan  Tanaman Jagung (Zea mays L.) dan Sorgum (Shorgumbicolor  L.)  pada Fase Pertumbuhan Vegetatif, Penelitian Pertanian Vol. 9,  No. 4, Balai Penelitian  Tanaman  Pangan, Bogor.
Soemartono,  1990,  Genetika  Kuantitaif  dan Biologi Molekuler, PAU-UGM, Yogyakarta.


Post a Comment for "Pengaruh faktor air terhadap pertumbuhan jagung"